Kaidah Pantun

 


Resume Ke-                     : 20

Hari/Tanggal                    : Jum'at, 5 Juni 2026

Judul                                : Kaidah Pantun

Narasumber                      : Miftahul Hadi, S.Pd.

Moderator                        : Lely Suryani, S.Pd.SD.


Minyak kelapa dicampur zaitun

Disimpan dengan bungkusnya

Mari kita belajar kaidah pantun

Bersama Mas Mif  narasumbernya


Di malam yang penuh bintang bertaburan dengan disertai indahnya sinar rembulan, memancar sebuah semangat besar untuk terus belajar. Malam ini kita akan belajar tentang Kaidah Pantun bersama narasumber sekaligus pakar pantun yaitu bapak Miftahul Hadi, S.Pd dengan didampingi moderator dari negeri dawet ayu yaitu ibu Lely Suryani, S.Pd.SD. Indonesia memiliki kekayaan seni verbal yang sangat beranekaragam, salah satunya adalah pantun. Pantun telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda secara nasional pada tahun 2014. Dan yang lebih hebatnya lagi, Pantun diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis (17/12/2020). Pantun menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) berasal dari kata “Pan” yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata “Tun” yang merujuk pada sifat santun. Kata “Tun” dapat diartikan juga sebagai pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019). Tuntun (Pampanga): teratur, Tonton (Tagalog): mengucapkan sesuatu dengan susunan yang teratur, Tuntun (Jawa Kuno): benang, Atuntun: teratur, Matuntun: pemimpin, Panton (Bisaya): mendidik, Pantun (Toba); kesopanan atau kehormatan (Hussain, 2019)

Pantun adalah termasuk puisi lama yang terdiri dari empat baris atau rangkap, dua baris pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020). Pantun bukan sekadar susunan kata berima, melainkan warisan budaya bangsa yang sarat akan makna dan estetika. Pantun bukan sekadar susunan kata bersajak A-B-A-B. Di balik keindahan bunyinya, karya sastra Melayu ini sarat akan makna kiasan dan gaya bahasa (majas) seperti metafora, personifikasi, maupun simile yang membuat pesan lebih hidup. Melalui materi ini, kita akan bersama-sama membedah bagaimana sampiran dan isi dipadukan, sekaligus mengenali rahasia di balik pemilihan diksi yang bermajas. 

Adapun fungsi pantun dalam pemelihara bahasa, meliputi:

  1. Penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. 
  2. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. 
  3. Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat. 
  4. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata. 
  5. Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.
Ciri-ciri pantun, antara lain:
  1. Satu bait terdiri dari empat baris.
  2. Untuk memudahkan dan menjaga keindahan struktur pantun usahakan satu baris terdiri atas empat sampai lima kata.
  3. Satu baris terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata.
  4. Pantun memiliki sajak a-b-a-b (baris satu dan baris tiga memiliki bunyi sama serta baris dua dan baris empat memiliki bunyi sama).
  5. Baris pertama dan kedua disebut sampiran atau pembayang sedangkan baris ketiga dan keempat disebut isi atau maksud.

Perbedaan pantun, syair, dan gurindam.









Adapun ciri-ciri syair yaitu:

  1. Satu bait terdiri dari empat baris.
  2. Memiliki sajak a-a-a-a.
  3. Keempat barisnya memiliki hubungan.
Contoh syair:

Ke sekolah janganlah malas,
Belajar rajin di dalam kelas,
Jaga sikap janganlah culas,
Agar hati tak jadi keras

Ciri-ciri pantun kilat (karmina):
  1. Terdiri dari dua baris
  2. Baris pertama disebut sampiran
  3. Baris kedua disebut isi
  4. Memiliki sajak a-a
  5. Antara sampiran dan isi tidak memiliki hubungan sebab akibat
Contoh karmina:
Sudah gaharu cendana pula,
Sudah tahu bertanya pula

Ciri-ciri gurindam:
  1. Satu bait terdiri dari dua baris
  2. memiliki sajak a-a
  3. Baris pertama dan kedua memiliki hubungan sebab akibat
Contoh gurindam:
Jika selalu berdoa berdzikir,
Ringan melangkah jernih berpikir.

Jika rajin zakat sedekah,
Allah akan tambahkan berkah

Adapun trik dalam membuat pantun, antara lain:

  1. Kuasai ciri-ciri pantun yang sudah kita kupas di atas.
  2. Kuasai perbendaharaan kata
Di sesi tanya jawab banyak berhamburan pertanyaan terkait seputar trik-trik dalam merangkai pantun. Antusias peserta mampu Dan akhirnya acara ditutup dengan beberapa pesan dari narasumber bahwa kita jangan pernah lelah untuk belajar, karena tidak ada hal yang sia-sia di dunia ini dan semangatlah belajar karena sejatinya guru yang pantas mengajar adalah guru yang tak pernah lelah untuk belajar (Miftahul Hadi).


Pergi ke kolam cari ikan
Ikan betutu enak dipandang
Materi pantun telah tersampaikan
Saatnya berpantun dengan riang

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIKSI SANG PERIAS MAKNA

Berkarya & Berprestasi Di Kancah Nasional Lewat Menulis

Menulis Dongeng dan Cerita Anak